|
Orang yang berpegang teguh dengan Sunnah di zaman seperti ini adalah orang-orang yang langka. Orang-orang yang istiqomah dengan Kitab dan Sunnah pada zaman keterasingan, mereka adalah mutiara. Bagaimana tidak, pada saat manusia tenggelam dalam maksiat kepada Alloh dan kebanyakan mereka berpaling dari kebenaran dan tidak menoleh kepadanya. Kehilangan mereka sama artinya kita kehilangan yang berharga dalam kehidupan kita. Sebagian salaf berkata: “Aku mendengar bahwa di suatu negeri salah seorang Ahlussunnah meninggal, serasa salah satu anggota tubuhku copot.” Subhanalloh, begitu berharganya seorang muslim yang hanif di mata salaf. Suatu hari Sufyan Ats-Tsauri rahimahulloh berkata kepada seseorang yang datang dari jauh: “Jika engkau bertemu seorang Ahlussunnah, sampaikan salamku! Sesugguhnya Ahlussunnah sekarang ini gharib (asing).” Jika itu pada masa Sufyan awal abad ketiga, bagaimana dengan zaman kita, telah berlalu dengan masanya tiga belas abad ?! Alangkah tebalnya kabut keterasingan bagi Ahlussunnah. Pembaca, sekiranya antum bertemu dengan seorang Ahlussunnah, maka penulis memohon agar antum bisa berlemah lembut dengannya, berikan yang bisa antum berikan!! Jangan lecehkan dirinya di tempat ia membutuhkan pertolonganmu, jangan tambah keterasingan dirinya dengan sikap antum kepadanya. Maka besar sekali bagi penulis kedudukan buku “Rifqon Ahlussunnah bi Ahlissunnah” yang dikarang oleh Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-Badr Hafizhahulloh, salah seorang ulama besar abad ini, salah seorang pengajar di Masjid Nabawi. Beliau adalah guru dari semua guru-guru penulis, dan kami adalah cicitnya dalam nasab ilmu. Layaklah buku itu dijadikan panduan bagi seorang muslim dalam berlemah lembut dengan saudaranya. Berjalan bersama sambil berpegangan tangan menuju surga……
(Dikutip dari buku Temui Aku di Telaga! karya Armen Halim Naro Rohimahulloh, Penerbit Pustaka Darul Ilmi halaman 7-9)
Last update : 28-07-2008 15:31
|
|
Users' Comments  |
|
Average user rating
(0 vote)
|
|
|